Perubahan Pemikiran Mahasiswa dalam Pengambilan Wacana Ilmu

Oleh,

Muhammad Miftahul Huda


Mahasiswa sekarang berbeda dengan mahasiswa yang dulu. Era modern ini kebanyakan mahasiswa menghabiskan hari-harinya dengan hura-hura dan sedikit pikiran akan masa yang sedang dihadapi dan atau bahkan masa yang akan dihadapinya. Pacaran, belanja, ketawa tak berguna, ngobrol entah ke mana, dan lupa waktu, itulah sekelumit aktifitas mahasiswa sekarang.

Perubahan Pemikiran Mahasiswa dalam Pengambilan Wacana Ilmu
Ilustrasi Google

Di sisi lain, pemikiran cerdas, mengkritisi masa sekarang dan mempersiapkan masa depan, diskusi alot tak mau kalah –walaupun hanya kusiran- itulah mahasiswa yang didampakan negeri ini. Mahasiswa yang penuh dengan gairah dalam memperjuangkan pendidikan, sosial, ekonomi, negara atau bahkan dunia.

Kecintaannya dalam mengembangkan pemikiran sangatlah menakutkan. “Saya pejuang pendidikan! Siapa anda yang berada di bawah naungan pendidikan, sejahtera”. Pendidikan, adalah salah satu kecintaan mahasiswa seperti ini. Tiap hari ia bersanding dengan buku dan diskusi. Pemikiran tokoh-tokoh hebat ia pelajari dengan penuh semangat. Tapi, bagaimanakah ia bisa menyimpulkan, kalau hanya ia dalam buku dan tokohnya tanpa ada sumber dan guru yang jelas?

Uthlubul ilma fi kulli makaanin wa fii kulli zamaanin. Tiap hari mereka belajar. Di manapun mereka belajar. Hebat!!! Semangat mereka tertuju pada kalam itu. Tapi bagaimana dengan kalam “belajar tanpa guru sama dengan kosong?”, “belajar sendiri yang mengajarkan setan?” entahlah. Yang penting mereka belajar.

Dalam pengambilan sumber belajar atau hukum mahasiswa sekarang kebanyakan asal-asalan dan sedikit yang sesuai. Dalam membaca mahasiswa sekarang hanya fokus pada ilmu yang ke barat-baratan -jarang yang memadukan ilmu agama- yang dinilai lebih relevan dan sesuai dengan perkembangan jaman. Ilmu dunia tanpa ilmu akhirat adalah bohong. Ilmu akhirat tanpa ilmu dunia adalah hampa. Itulah yang terjadi.

Di dalam ahlussunnah wal jama’ah adalah orang-orang yang memiliki metode berfikir keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berlandaskan atas dasar-dasar moderasi, menjaga keseimbangan dan toleran. Kapankah para mahasiswa akan berfikiran seperti itu? Padahal agama –Ahlussunnah wal Jama’ah- sudah lebih jelas ilmunya.

Ke-moderat-an Aswaja tercermin pada metode pengambilan hukum (istinbath) yang tidak semata-mata menggunakan nash, namun juga memperhatikan posisi akal. Bagitu pula dalam wacana berfikir selalu menjembatani antara wahyu dengan rasio (al-ra’y). Metode (manhaj) seperti inilah yang diimplementasikan Imam Madzhab empat serta generasi lapis berikutnya dalam menelorkan hukum-hukum pranata sosial.

Sifat netral (tawazun) Aswaja berkaitan dengan sikap mereka dalam politik. Aswaja tidak terlalu membenarkan kelompok garis keras (ekstrim). Akan tetapi, jika berhadapan dengan penguasa yang zalim, mereka tidak segan-segan mengambil jarak dan mengadakan aliansi. Dengan kata lain, suatu saat bisa lebih dari itu meskipun masih dalam batas tawazun.

keseimbangan (Ta’adul) Aswaja terefleksikan pada kiprah mereka dalam kehidupan sosial, cara mereka bergaul serta kondisi sosial budaya mereka. Begitu pula sikap toleran Aswaja tampak dalam pergaulan dengan sesama muslim yang tidak mengkafirkan ahl al-qiblat serta senantiasa ber-tasamuh terhadap sesama muslim maupun umat manusia pada umumnya.

Mahasiswa yang memperhatikan posisi akalnya pasti tidak akan asal-asalan dalam mencari sumber belajar karena ia bersifat moderat. Mahasiswa yang suka mengedepankan akal rasio tidak akan mudah terenggut akalnya, karena ia menjembatani. Ia lebih suka mengambil sisi positifnya dan memperbaiki sisi negatifnya.

Mahasiswa yang suka politik akan lebih mempertimbangkan keutuhan yang ber-ukhuwah, tidak memihak kepada kalangan atas dan tidak pada kalangan bawah, tetapi mereka berada di tengah dengan mendukung kebagusan dan menghapuskan keburukan kalangan atas serta mendongkrak yang di bawah untuk selalu berusaha agar dirinya menjadi yang istimewa. Merekalah mahasiswa yang tidak mudah untuk menyalahkan, selalu berusaha menerima dan tidak mudah terprovokasi menjadi thama’ dan akhirnya bangga dengan ke-takabbur-an.

Sumber:
Dr. H. Said Agiel Siradj, Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Lintas Sejarah

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Perubahan Pemikiran Mahasiswa dalam Pengambilan Wacana Ilmu"

Post a Comment