Merinding, Puisi Ini Ceritakan Fase Kematian

Puisi biasanya menceritakan tentang sesuatu yang indah. Seperti puisi cinta yang penuh kata-kata mesra yang membuat pendengar menjadi luluh dan juga meleleh. Tapi lain dengan puisi yang satu ini puisi karya Mukhammad Hamid Samiaji salah satu mahasiswa IAIN Purwokerto prodi PGMI ini justru mengingatkan kita pada kematian, fase-fase setelah kita mati dan juga dosa-dosa yang kita perbuat selama ini, inilah puisinya

Merinding, Puisi Ini Ceritakan Fase Kematian

Mukhamad Hamid Samiaji

Fragmen Alam Kubur

Ditinggalkannya tujuh langkah kaki sang pengubur
ditanyakanlah oleh dua sang malaikat kubur
di kala gelap menghentak tubuh yang membujur
ditanggungjawabkanlah selama kau berumur
hanya amal dan kebaikanlah yang bisa kau bawa kabur
Man Rabbuka?
Man Nabiyyuka?
Man Dinnuka?
Aina Qiblatuka
Man Ikhwanuka?
Engkau tak tahu tatkala ditanya siapa Tuhanmu,
sedang di dunia kau hanya bercumbu dengan kekasihmu
Engkau tak tahu tatkala ditanya siapa Nabimu,
sedang di dunia shalawatpun tak sempat terucap di bibirmu
Engkau tak tahu tatkala ditanya apa agamamu,
sedang di dunia kau sibuk dengan bisnis usahamu
Engkau tak tahu tatkala ditanya siapa imammu,
sedang di dunia kau biarkan al-Qur’an berdebu
Engkau tak tahu tatkala ditanya di mana qiblatmu,
sedang di dunia shalat tak pernah didirikan olehmu
Dan engkau tak tahu tatkala ditanya siapa saudaramu,
sedang di dunia kau palingkan tetanggamu
Na’udzubillahi min dzalik.

Cilongok, Mei 2016

Kita bisa merenung saat kita membacanya, tersirat makna yang membuat kita semua mengingat akan pendeknya umur kita di dunia ini. Marilah kita semua bersama kembali kepada jalan-Nya jalan yang diridhoi-Nya agar dalam hidup kita bahagia dan juga setelah mati kita juga bahagia Amiin

Semoga bermanfaat

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Merinding, Puisi Ini Ceritakan Fase Kematian"