Sholat Ternyata Memiliki Tingkatan-tingkatan

Shalat lima waktu merupakan shalat yang wajib dilaksanakan oleh umat islam. Kita tidak tau bagaminan shalat yang kita lakukan . Bagaiamana cara menilai dan mengevaluasinya??

Sholat ternyata memiliki tingkatan-tingkatan

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menerangkan rumusan yang dapat digunakan untuk menilai shalat lima waktu kita. Rumusan ini dikaitkan dengan lima tingkatan manusia di dalam shalat. Sehingga tinggal direfleksikan dan dijadikan bahan intropeksi, ada pada tingkatan ke-berapakah kita.

Tingkatan pertama, Muaqab


Secara bahasa artinya hukuman atau orang yang disiksa. Jelasnya, orang pada tingkatan ini boleh jadi mengerjakan shalat tetapi dia tetap akan disiksa di akhirat kelak. Dalam al-Qur’an jelas ada informasi bahwa kecelakaan bagi orang yang shalat.

Allah SWT berfirman,

"Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat".(QS. Al-Ma’un : 4).

Kriteria mushalli (orang yang melaksanakan shalat) yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim adalah orang yang mengabaikan atau kurang dalam melakukan aturan-aturan seputar shalat dari mulai waktu shalat, wudlu, sampai rukun-rukun shalat. Shalatnya hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban (formalitas). Orang seperti ini ini cenderung malas menjalankan shalat.

Kedua, Muhasab


Ini berarti dihisab. Maksudnya adalah shalatnya diperhitungkan oleh Allah. Orang ini mampu menjaga waktu shalat, wudhu, syarat-syarat dan rukun shalat. Namun, untuk aspek ruhiyah (kekhusyuan) kurang diperhatikan sehingga ketika shalat dijalankan, pikirannya dipenuhi lamunan-lamunan tentang dunia.

Ketiga, Mukaffar ‘anhu


Artinya diampuni (dihapus) dosa dan kesalahan (dengan shalatnya). Yang menempati tingkatan ini memiliki ciri yang mirip dengan tingkatan yang kedua. Bedanya, dia berusaha keras menghalau lamunan dan pikiran yang terlintas tentang dunia yang berasal dari godaan setan. Berjihad melawan bisikan-bisikannya (setan) sampai shalat selesai.

Keempat, Mutsabun


Mutsabun berarti(orang) yang diberi pahala karena shalatnya. Ciri-ciri seperti Mukaffar ‘anhu. Kelebihanya adalah dia benar-benar sudah fokus dan khusu’ di dalam shalatnya. Akan tetapi, bukan berarti dia dim saja tidak mengetahui apa yang terjadi disekelilingnya. Ada kondisi seseorang melakukan gerakan di luar shalat namun dengan alas an syar’i. hanya saja, karena dia menyadari sedang berhadapan dengan Allah SWT,membuat pikiran tercurahkan kepada-Nya.

Kelima, Muqarrab min Rabbihi


Adalah orang yang didekatkan dengan Tuhanya (Alla SWT). Tingkatan terakhir tidak hanya khusu’ tetapi juga mampu menghadirkan perasaan sedang berkomunikasi dengan Allah SWT. Cara mencapai tingkatan ini merenungi makna dari bacaan al-Fatihah dan bacaan shalat yang lain. Tidak terburu-buru dalam membaca maupun melaksanakan shalat.

Penilaian terhadap tingkatan shalat dikembalikan pada diri masing-masing. Apakah kita dalam tingkatan pertama, mengerjakan shalat namun tetap mendapat siksa, atau yang lainya. Kita berharap, mudah-mudahan, ibadah shalat yang kita laksanakan menjadi penghapus dosa kita dan menjadikan kita semakin dekat dengan Allah SWt. Aamiin.

“Semoga bermanfaat”

Lentera Ummat

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sholat Ternyata Memiliki Tingkatan-tingkatan"

Post a Comment