SIKAP GURU TERHADAP PENDIDIKAN INKLUSI DI TINJAU DARI FAKTOR PEMBENTUKAN SIKAP

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengebangkan potensi keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Inklusi adalah praktek yang mendidik semua siswa, termasuk yang mengalami hambatan yang parah ataupun majemuk, di sekolah-sekolah reguler yang biasanya dimasuki anak-anak non berkebutuhan khusus (Ormrod,2008).

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengebangkan potensi keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.  Inklusi adalah praktek yang mendidik semua siswa, termasuk yang mengalami hambatan yang parah ataupun majemuk, di sekolah-sekolah reguler yang biasanya dimasuki anak-anak non berkebutuhan khusus (Ormrod,2008).

Pendidikan Inklusi merupakan praktek yang bertujuan untuk pemenuhan azasi manusia atas pendidikan, tanpa adanya diskriminasi, dengan memberi kesempatan pendidikan yang berkualitas kepada semua anak tanpa perkecualian, sehingga semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk secara aktif mengembangkan potensi pribadinya dalam lingkungan yang sama (Cartwright, 1985 dalam Astuti, Sonhadji, dan soetopo, 2011). Pendidikan Inklusi bertujuan membantu mempercepat program wajib belajar pendidikan dasar serta membantu ,eningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah dengan menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah pada seluruh warga negara (Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi, 2007)

Model Pendidikan Inklusi Indonesia. Pendidikan anaka berkebutuhan khusus di sekolah inklusi dapat dilakukan dengan berbagai model sebagai berikut (Ashman,1994 dalam Emawati,2008):

1. Kelas Reguler (Inklusi Penuh)
Anak berkebutuhan khusus belajar bersamaa anak non berkebutuhan khusus bsepanjang hari dikelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama.
2. Kelas Reguler dengan Cluster
Anak berkebutuhan khusus belajar dengan anak non berkebutuhan khusus di kelas reguler dalam kelompok khusus.
3. Kelas Reguler dengan Pull Out
Anak berkebutuhan khusus belajar dengan anak non berkebutuhan khusus di kelas reguler namun dalam waktu waktu tertentu ditarik dari kelas reguler keruang lain untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.
4. Kelas Reguler dengan Cluster dan Pull Out
Anak berkebutuhan khusus belajar dengan anak non berkebutuhan khusus di kelas reguler dalam kelompok khusus, dan dalam waktu waktu tertentu ditarik dari kelas reguler keruang lain untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.
5. Kelas Khusus dengan Berbagai Pengintegrasian
Anak berkebutuhan khusus belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak non berkebutuhan khusus di kelas reguler.
6. Kelas Khusus Penuh
Anak berkebutuhan khusus belajar di dalamkelas khusus pada sekolah reguler
Sikap guru terhadap pendidikan inklusi adalah gambaran yang positif atau negatif dari komitmen guru dalam mengembangkan anak berkebutuhan khusus yang menjadi tanggung jawab guru dan juga menggambarkan sejauh mana anak berkebutuhan khusus di terima disebuah sekolah.

Faktor yang mempengaruhi sikap guru terhadap inklusi. Avramidis dan Norwich (2002) merangkum berbagai penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi sikap guru, sebagai berikut :

1. Siswa
Konsep guru terhadap siswa berkebutuhan khusus bergantung pada jens hambatan siswa. Persepsi guru menganai jenis hambatan siswa dapat dibedakan berdasarkan tiga dimensi, yaitu hambatan fisik dan sensori, kognitif, dan perilaku emosional yang dimiliki siswa.
2. Guru
Faktor guru terbagi dalam beberapa variable, yaitu :

a. Gender
Guru perempuan memiliki toleransi yang lebih tinggi dinadingan guru laki-laki terhadap integrasi untuk siswa berkebutuhan khusus.
b. Usia dan Pengalaman Mengajar
Guru yang lebih muda dan dengan pengalaman mengajar yang masih sedikit memiliki sikap yang mendukung terhadap integrasi.
c. Tingkat Kelas yang diajar
Seiring dengan bertambahnya usia siswa, maka sikap positif yang dimiliki guru akan berkurang dan menunjukan fakta bahwa guru yang mengajar kelas yang lebih tinggi lebih memperhatikan pada materi pelajaran dan kurang memperhatikan pada perbedaan individu siswa.
d. Pengalaman Kontak dengan Siswa Berkebutuhan Khusus
Kontak dengan siswa berkebutuhan khusus semakin dekat, maka sikap yang dimiliki guru semakin positif.
e. Pelatihan
Pengetahuan yang dimiliki guru mengenai siswa yang berkebutuhan khusus yang dikembamgkan melalui pelatihan yang didapat.
f. Keyakinan Guru
g. Pandangan Sosio-Politik
Sikap guru terkait dengan keyakinan personal (pandangan terhadap politik dan sosial politik) dan sikap personal.

Lingkungan Pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sikap positif guru adalah ketersediaan dukungan fasilitas di dalam kelas dan level sekolah. Dukungan fasilitas yang dimaksud dalam hal ini adalah, sumber daya fisik seperti, perlengakapn mengajar, perlengkapan IT, lingkungan fisik yang mendukung, dan lain-lain. Serta sumber daya manusia seperti, guru khusus, terapis, kepala sekolah, orang tua, dan lain lain.

Semoga bermanfaat

Oleh Noto saputro

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SIKAP GURU TERHADAP PENDIDIKAN INKLUSI DI TINJAU DARI FAKTOR PEMBENTUKAN SIKAP"

Post a Comment