Rukun Rukun Sholat

Rukun adalah tata cara bagi seseorang untuk melaksanakan solat. Rukun harus dilaksanakan dengan urut, tidak bolah tidak. Karena apabila rukun tidak dilakukan dengan benar dan tidak berurutan, maka solatnya tidak sah dan harus diulangi lagi. Rukun solat yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut,

Rukun Rukun Sholat

1. Berniat

Sebagaimana ibadah-ibadah yang lain, salat juga harus diawali dengan niat. Dalam hal niat, setidaknya ada beberapa unsur yang harus disebutkan demi kesempurnaan niat, yaitu : 1) bilangan raka’at yang akan dikerjakan, misalnya kalimat arba’a raka’atin ( empat raka’at), 2) menghadap kiblat, 3) menyatayangkan bahwa semata-mata salat yang dilakukan adalah karena Allah, dan 4) menyatakan status salat yang dikerjakan (hukum, waktu, status pelaku, dan kedudukan salat yang akan dikerjakan). Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh niat-niat salat berikut :

a. Niat Salat Fardu


اُصَلِّيْ فَرْ ضَ الصُّبْحِ رَ كْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلِقْبَلةِ اَدَاءً /مَا مُو مًا/ اِمَا مًا لله تَعَا لى

“ Saya niat salat fardhu subuh dua raka’at dengan mengadap kiblat secara ada’/makmum/menjadi imam karena allah ta’ala.”

أُصِلِّي فَرْضَ الظُّهْرِأَرْبَعَرَكَعَاثٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً/مَأمُومًا/اِمَامًا لله تَعَا لى

“Saya niat shalat fardhu zuhur empat raka’at dengan menghadap kiblat secara ada’/makmum/menjadi imam karena Allah ta’ala.”


أُصَلِّي فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلَاثِ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقٍبْلَةِ أَدَاءً /مَامُومًا/اِمَامًا لله تَعَالى

“Saya niat salat fardu maghrib tiga raka’at dengan menghadap kiblat secara ada’/ makmum/ menjadi imam karena Allah ta’ala.”

b. Niat salat sunah

اُصَلِّي سُنَّةَ التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ مُسْثَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً لله تعا لى

“saya niat salat sunat tahajjud dua raka’at dengan menghadap kiblat secara ada’ karena allah ta’ala.”

2. Berdiri bagi yang kuat (kuasa). Bagi yang tidak kuasa boleh dengan duduk atau berbaring.


Rukun ini hanya berlaku pada salat fardu dan bagi orang yang mampu. Ketika berdiri, badan harus tegak dan tidak boleh membungkukan badan sampai batas ruku. Adapun bagi orang-orang yang tidak mampu berdiri karena kondisi badannya tidak memungkinkan (cacat/ sakit), maka ia boleh melakukannya dengan beberapa alternative, yaitu :

a. Salat dengan duduk
Bagi orang yang tidak mampu salat sambil berdiri, maka ia diperbolehkan mengerjakannya dengan duduk. Adapun tata caranya sebagai berikut :

1) Ketika duduk diperbolehkan memilih posisi duduk yang dikehendakinya. Namun yang paling baik adalah dengan posisi duduk iftisyary(seperti duduk tasyahud awal)

2)Pada saat ruku’ badan dibungkukan sampai dahi lurus dengan tempat sujud.

3)Sujud dilakukan sebagaimana mestinya.

b. Salat dengan tidur miring
Jika dengan cara duduk seseorang tidak mampu, maka ia boleh mengerjakan salat dengan cara tidur miring. Caranya adalah sebagai berikut :

1) Posisi kepala berada diutara (tubuh bagian kanan berada dibawah), sedangkan wajah dan dada dihadapkan kearah kiblat.

2) Ruku’ dan sujud dapat dilakukan dengan isyarat menganggukan kepala. Untuk sujud, anggukan kepala lebih dalam dibandingkan ruku’.

3) Jika menggunakan kepala juga tidak memungkinkan, maka dapat dilakukan dengan mengedipkan mata. Dalam keadaan ini, kedipan mata untuk ruku’ dan sujud tidak ada bedanya.

4)Jika cara-cara diatas juga tidak dapat dilakukan, maka cara selanjutnya adalah dengan membayangkan gerakan ruku’ dan sujud didalam hati.

c. Salat dengan tidur terlentang
Apabila solat dengan tidur miring tidak mampu dilakukan, maka seorang diperbolehkan melakukan salat sengan tidur terlentang. Caranya adalah :

1) Posisi kepala berada diarah yang berlawanan dengan arah kiblat ( arah timur untuk negara Indonesia). Hal ini dimaksudkan agar wajah dan kedua telapak kaki bisa dihadapkan kearah kiblat.

2) Kemudian bungkukan (leher atas bagian bawah kepala) diganjal dengan bantal atau yang lainnya. Hal ini dimaksudkan agar wajah dan badannya bisa menghadap kiblat.

3) Ruku’ dan sujud dilakukan dengan tatacara sebagaimana salat dengan tidur miring.

3. Takbiratul ihram

Takbirathul ihram adalah takbir yang dilakukan diawal salat. Dinamakan takbiratul ihram karena ia adalah takbir yang mengharamkan (ihram). Artinya, semua hal yang halal sebelum takbir dilakukan (seperti makan, minum, berbicara dan lain sebagainya), menjadi haram setelahnya.
Cara melakukan takbiratul ihram adalah dengan mengucap kalimat takbir, yaitu “Allahu Akbar” ketika tangan sejajar dengan bahu (ujung telapak tangan kira-kira sejajar telinga). Pada saat takbiratul ihram inilah waktunya membaca niat di dalam hati. Tata cara takbiratul ihram yang benar

4. Membaca Surat Al Fatihah

Dalam membaca Surat al Fatihah harus benar harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan semestinya (mengacu pada ilmu tajwid) baik makhraj, panjang pendek huruf atau yang lainnya.

5. Ruku‘

Ruku dilakukan dengan membungkukan badan, paling tidak sampai kedua telapak tangan bisa memegang lutut. Posisi punggung sampai kepala diusahakan rata (lurus).
Pada saat ruku’ membaca kalimat tasbih minimal satu kali (untuk lebih baiknya tiga kali). Kalimat tasbih terdebut adalah :

سُبْحَا نَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِ هِ

maha suci Tuhanku yang Maha Agung dan dengan memujanya

6. I’tidal

Yaitu gerakan setelah ruku’ yang dilakukan dengan dengan mengembalikan posisi badan seperti sebelum ruku’ (berdiri), atau duduk bagi orang yang salat dengan duduk. Pada saat beralih gerakan dari ruku’ ke berdiri, hendaknya mengucapkan :

سَمِعِ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

" Allah Maha Mendengar terhadap orang yang memuji-Nya.

Ucapan tersebut dilakukan sambil mengangkat kedua tangan sampai batas bahunya (sebagaimana dalam takbiratul ihram) bersamaan dengan mengangkat punggung dan kepala. Ketika badan sudah berdiri tegak dan tangan diturunkan, kemudian membaca :


رَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُمِلْءُالسَّمَا وَاثِ وَمِلءُالْأَرْضِ وَمِلْءُمَا شِئْتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ

ya Allah Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki seudah itu.”

7. Sujud (dua kali)

Sujud adalah meletakan tujuh anggota tubuh kening, kedua lutut, kedua telapak tangan bagian dalam, dan kedua jari-jemari kaki bagian dalam) di tempat sujud dengan membaca :

سُبْحَانَ رَبٍي اَلاَ عْلى وَبِحَمدِهِ

Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi dan dengan memuji-Nya.”

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhu ketika sujud :

a. Menurunkan tubuh dengan tujuan hanya untuk melakukan sujud.

b. Ketuju anggota sujud diam secara bersamaan. Jadi apabila telapak tangan misalnya terangkat sedangkan anggota yang lain sudah diletakan, kemudian ketika telapak tangan tersebut telah diletakan, ada anggota sujud lain yang terangkat, maka sujudnya belum dianggap cukup.

c. Sujud dilakukan dengan cara menungging. Artinya anggota tubuh bagian bawah (pantat dan pinggul) posisinya lebih tinggi dari anggota tubuh bagian atas (kepala).

d. Sebagian kening diletakan di tempat sujud dalam keadaan terbuka, kecuali apabila tidak mungkin, seperti terdapat luka yang diperban dan tidak mungkin untuk melepasnya.

e. Ketika bersujud, kepala dan leher benar-benar menekan.

8. Duduk diantara dua sujud

Setelah sujud yang pertama, salat dilanjutkan dengan duduk (iftirasy). Peralihan dari sujud ke duduk dilakukan dengan mengucap takbir. Setelah duduknya tegak, disunnatkan meletakan kedua tangan diatas paha dalam keadaan terbuka (tidak digenggam) dan semua jemarinya dirapatkan serta diluruskan kearah kiblat, sedangkan ujung jari-jari tangan lurus dengan lutut.

9. Thuma’ninah

Thuma’ninah adalah diam dan tenang (sesaat) setelah melakukan gerakan dalam salat. Lama waktu diam thuma’ninah adalah kira-kira lamanya orang mengucapkan kalimat tasbih (subhanallah), setelah seluruh badan berada dalam posisi yang mantap (tidak bergerak). Thuma’ninah harus dilakukan dalam empat rukun, ysitu : ruku’, sujud, duduk diantara dua sujud, dan I’tidal.

10. Duduk tasyahud akhir

Dinamakan tasyahud karena mengandung bacaan-bacaan yang berisikan kesaksian (syahadat) akan keesaan Allah dan kerasulan nabi Muhammad saw. Dan dinamakan akhir karena tasyahud ini dilaksanakan mengiringi salam. Bacaan tasyahud akhir adalah :

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِّلهِ، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحُمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّا لِحِيْنَ، اَشْهَدُ اَنْ لَااِلهَ اِلَّا اللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدُا رَسُوْ لُ اللهِ

Segala penghormatan, keberkahan dan shalawat dan kebaikan hanya milik-Mu ya Allah, selamat sejahtera semoga tercurah kepada engkau wahai Nabi Muhammad, demikian juga rahmat Allah dan berkah-Nyapun tercurah padamu, semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

11. Membaca shalawat Nabi pada tasyahud akhir

Shalawat dibaca setelah membaca tasyahud, sedangkan bacaan shalawat yang paling baik adalah dengan menggunakan shalawat ibrahhimiyah. Yaitu :

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنِااِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَااِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مَحِمَّدٍ، كَمَا بَا رَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ، فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدُمَّجِيْدٌ

ya Allah, berilah shalawat atas junjungan kami Muhammad d an keluarga Muhammad sebagaimana Engkau member shalawat atas junjungan kami Ibrahim dan keluarga Ibrahim, dan berkahilah junjungan kami Muhammad beserta keluarga Muhammad, sebagaimana engkau memberkahi junjungan kami Ibrahim beserta keluarga Ibrahim diseluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

12. Duduk untuk melakukan tasyahud akhir, shalawat dan salam

Untuk dapat melakukan duduk tasyahud akhir yang sempyrna, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :

a. Duduk dengan posisi tawwaruk, yaitu seperti posisi iftirasy hanya saja kaki kiri dikeluarkan lewat bawah kaki sebelah kanan dan pantatnya ditempelkan ke tanah.

b. Meletakan kedua tangan diatas paha. Untuk tangan kiri dalam keadaan terbuka dengan merapatkan jari-jari dan ujungnya sejajar dengan lutut. Untuk tangan kanan, jari-jemari digenggam, kecuali jari telunjuk.

c. Mengangkat (mengacungkan) jari telunjuk bertepatan dengan mengucapkan hamzahnya lafazh اِلَّا اللهُ dan membiarkannya tetap terangkat (teracung) sampai salam.

d. Selama jari telunjuk terangkat, pandangan mata dipusatkan pada jari-jari tersebut.

13. Salam yang pertama

Setelah seluruh rangkaian salat dilakukan (dari takbiratul ihram sampai shalawat nabi), maka
salat ditutup dengan mengucap salam. Minimal ucapan salam tersebut adalah اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ.
Sedangkan yang paling sempurna dengan menambah lafazh warahmatullah, menjadi
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله

14. Tertib (dilakukan berturut-turut)

Tertib adalah menjalankan ritual-ritual salat sesuai dengan urutannya. Jadi tidak diperbolehkan mengerjakan sujud sebelum ruku’, atau ruku’ sebelum membaca fatihah dengan sengaja dan seterusnya.

Semoga bermanfaat.

Oleh Dita Yasinta.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rukun Rukun Sholat"

Post a Comment